Musik

Sunday, August 2, 2015

ANALISIS NOVEL NEGERI 5 MENARA


ANALISIS NOVEL
NEGERI 5 MENARA



Nama : Yusi Rakhmah Wati
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA



A.    SINOPSIS Novel “ Negeri 5 Menara”

Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah diluar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan. Alif adalah seseorang yang berasal dari keluarga yang sederhana, namun masih memiliki darah ulama dari ibunya. Ia adalah putra minangkabau yang lulus dari madrasah tsanawiyah dengan nilai yang lumayan membanggakan, ia menduduki nilai terbaik sepuluh besar. Ia memiliki cita-cita yang tinggi, dan menginginkan menjadi seseorang yang berintelektual tinggi seperti habibie. Ia sangat mengidolakan tokoh tersebut, sehingga ia sangat menginginkan melanjutkan studinya ke tingkat SMA. Ia ingin mempelajari ilmu non agama, setelah tiga tahun ia berkecimpung di madrasah tsanawiyahnya, untuk mempelajari ilmu agama dan ilmu non agama. Namun, kali ini ia menginginkan sekolah yang benar-benar murni mempelajari keilmuan umum. Akan tetapi Ibu menginginkan putranya itu meneruskan darah keulamaannya. Ibunya menyuruhnya agar mondok saja, untuk lebih mendalami ilmu agama, karena ia menginginkan putranya menjadi seorang pemimpin agama seperti Buya Hamka.

Pada awalnya ia menolak keinginan ibunya itu, sampai-sampai ia mengurung diri di kamarnya untuk beberapa hari, namun akhirnya datanglah surat dari pamannya. Didalam surat itu pamannya menceritakan pondok madani dan kehidupan disana. Lalu akhirnya ia berpikir percuma saja malawan orang tua. Ia memutuskan untuk menyetujui kemauan Ibunya, ia memilih pondok pesantren madani sebagai tempatnya menimba ilmu yang terletak di jawa. ia memilih pondok yang jauh. dan sebenarnya ia pun tidak mempunyai akan jadi apa nanti di pondok madani. Lalu orang tua ia berdiskusi unntuk memutuskan keinginan anaknya tersebut. Dengan berat hati orang tua ia menyetujuinya. Diantarkannya menuju jawa oleh ayahnya. Dengan perjalanan 3 hari akhirnya sampai juga di Pondok madani. Dengan ditemani senior Pondok Madani ia dan ayah serta orang tua yang lain mengikuti arah dari pemandu.

Pada awal proses perkenalan di sekolah, ia takjub dengan mantra ampuh yang diyakini ampuh yakni “ manjadda wa jada” yang berarti “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Di rumah barunya ini, ia bertemu dengan beberapa kawanan yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia, mereka adalah Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari bandung, dan Baso dari Gowa. Dari perkenalan pada awal sekolah di PM berlangsung, membawa enam putra daerah tersebut menjadi sahabat yang karib. Banyak pengalaman yang mereka lalui bersama-sama, mulai dari dihukum oleh kakak angkatannya dengan jeweran berantai, hingga pengalaman menjadi penjaga malam, karena PM di satroni maling. Mereka biasa menunggu maghrib tiba, dengan menghabiskan waktu di masjid. Tepat di menara masjid para kawanan tersebut menengadah keatas, memperhatikan awan, dan membayangkan awan-awan itu menjelma menjadi benua dan Negara impian mereka masing-masing. Dari hal tersebut, mereka disebut sebagai :para sohibul menara”. Prinsip mereka, jangan pernah meremehkan impian dan cita-cita meskipun setinggi apaun, karena Tuhan maha mendengar. Keyakinan mereka atas kekuasaan Tuhan akhirnya terbukti, mereka mencapai cita citanya untuk ke negeri impian masing-masing. Atang di kairo, Baso yang akhirnya di mekah, Raja, Alif dan Said di Washington DC, London.

B.     KESATUAN

1.       Tema

      Tema dalam karya sastra adalah pokok permasalahan, masalah utama atau inti peermasalahan. Tema novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi adalah pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari latar tempat yaitu di pesantren dimana kegiatan utama yang dilakukan sehari-hari tokoh utama adalah belajar.
“Bagai sebuah konspirasi besar untuk mencuci otak, metode total immersion ini cocok dengan lingkungan yang sangat mendukung. Tidak cukup dengan itu, entah siapa yang menyuruh, banyak diantra kami yang membawa kamus. Kalau bukan kamus cetak, kami pasti membawa buku mufradhat, buku tulis biasa yang dipotong kecil sehingga lebih tipis dan gampang dibawah kemana-mana. Murid dengan buku mufradhat ditangan gampang ditemukan sedang antri mandi, antri makan, berjalan, bahkan di antara kegiatan olahraga sekalipun.( hal. 133 ).”

2.      Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak tokoh pada sebuahcerita.
a.      Alif Fikri
·         patuh dan sayang pada emak dan  taat agama.
“Aku tiba-tiba merasa menjadi seorang egois yang hitam dan sangat berdosa pada emak.lebih-lebih lagi aku juga merasa bersalah kepada Allah karena tidak menuruti perintah birrul walidin ini.”
                        (hal 129)
·         Pintar “ kepala sekolahku memberiku selamat karena nilai ujiananku termasuk sepuluh yang tertinggi di kabupaten agam. (hal 5)


b.      Amak
·         Ramah “Mukanya selalu mengibarkan senyum ke siapa saja” (hal.6)
·         Rela Berkorban “Amak terpaksa menjadi guru sukarela yang hanya dibayar dengan beras selama 7 tahun” (hal.6)
·         Peduli “…Bagaimana nasib umat Islam nanti?” (hal.7)

c.       Ayah
·         Seorang pria separuh baya yang membela kebenaran : “Mungkin naluri kebapakannya tersengat untuk membela anak dan sekaligus membela dirinya sendiri” (hal. 20)
·         Dapat dipercaya  “Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban idul adha minggu depan telah ditunaikan Ayah” (hal.91)

d.      Dulmajid

·            Semangat “Animo belajarnya memang maut” (hal.46)
·            Jujur, tegas serta setia kawan “Aku menyadari dia orang paling jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal” (hal.46).



e.      Raja
·            Percaya diri “Raja Lubis yang duduk di meja paling depan maju” (hal.44)
·            Pantang menyerah “Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju duluan,” ( hal.124)

f.        Atang
·         Menepati Janji “Sesuai Janji, Atang yang membayari ongkos” (hal.221)      
·         Baik  “Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said.” (hal.226)

g.      Said
·         Berfikir dewasa “Perawakan yang seperti orang tua dan cara berpikirnya yang dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang terdepan” (hal.156)
·         Baik “Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa     kota seperti Atang dan Said.” (hal.226)

h.      Baso
·         Disiplin “Dia begitu disiplin menyediakan waktu untuk membaca buku favoritnya” (hal.92)
·         Rajin “Baso anak paling rajin diantara kami” (92)

i.        Ustad Salman
·         Seorang lelaki yang Kreatif “Itulah gaya unik Ustad Salman, selalu mencari jalan kreatif untuk terus memantik api potensi dan semangat kami” ( hal.106)

j.        Kiai Rais

·         Baik  “…yang menjadi panutan kita dan  semua orang selama di PM ini” (hal.49)
·         Berbakat “Kiai Rais adalah sosok yang bisa menjelma menjadi apa saja” hal. 165)

k.      Tyson
·         Tegas “…Terlambat adalah terlamabat. Ini pelanggaran” (hal.66)

l.        Ustad Torik
·         Tegas “Kalian sudah tahu aturan adalah aturan. Semua yang ikut ke Surabaya saya tunggu di kantor. SEKARANG JUGA.” (hal.351)



3.      ALUR
Alur  merupakan rankaian pristiwa yang membentuk jalan crita. Alur sangat penting dalam  karya sastra, di sini di tuntut bagaimana kemampuan pengarang memberikan alur yang membuat pembaca merasa ikut larut dalam suasana cerita. Pada novel ini terdapat alur campuran
           
* Alur maju
     “Kantorku berada di Indepedence Avenue, jalan yang selalu riuh dengan pejalan kaki, dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di Ibukota Amerika Serikat “The Capitol and The Mall”. Tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan.”.
            (hal. 2).

* Alur mundur
      Aku tegak diatas panggung aula Madrasah Negeri setingkat SMP. Sambil menguncang-guncangkan telapak tanganku, Pak Sikumbang, kepala sekolahku memberi selamat karena nilai ujianku termasuk sepuluh yang tertinggi di kabupaten Agam.(hal.5)

      Disebelahku duduk anak laki-laki berkulit legam dan berkacamata tebal.Dia memakai sepatu hitam dari kulit yang sudah retak-retak.Sol bagian belakangnya tidak rata lagi. Sebentar-sebentar matanya melihat keluar jendela.Dia menebut namanya Dulmajid dari Madura.(hal. 27)
* Alur maju
       Atang mendapat kabar kalau kini said meneruskan bisnis Batik keluarganya Jufri di pasar ampel,Surabaya. Sesuai dengan cita-cita mereka dulu, Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok dengan semangat PM di Surabaya.(hal.403)

      Atang bahkan mempunyaimkabar tentang Baso, Si atang cemerlang yang mengundur diri dari PM karena ingin merawat  neneknya dan menghafal alquran untuk almarhum Orang tuanya.Allah memperjalankan Baso yang brilian ini untuk kuliah di Mekkah. Dengan modal hafal segenap isi Alquran, dia mendapat Beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi.(hal. 403)

      Sedangan Atang sendiri telah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo dan sekarang menjadi  mahasiswa program Doktorat untuk Ilmu hadist di Universitas Al-azhar.
       (hal 403)

      Sementara raja berkisah kalau ia telah satu tahun tinggal di London, setelah menyelesaika kuliah Hukum Islam dengan gelar License di Madinah.(hal 403)


4.      LATAR

a)            Latar tempat

·         Indepedence Avenue, Amerika Serikat
“Kantorku berada di Independence Avanue, jalan yang selalu…..”
(hal. 2)

·         Aula SMP
“Aku tegak di atas panggung Aula Madrasah Negeri setingkat SMP”
(hal. 5)

·         Rumah
“Beberapa hari setelah Eforia kelulusan mulai kisut, amak mengajak aku duduk di langkan rumah.”
( hal.  )

·         Di rumah Atang, Bandung
“Keluarga Yunus berkecukupan dan sangat menghargai seni.Dinding rumah dipenuhi lukisan, rak buku disesaki buku teater,melukis dan tari.”
( hal. 218 )

·         Di Masjid UNPAD
“seperti undangan yang diterima Atang,kami dating ke Masjid Unpad sebelum ashar. Di luar dugaan sholat ashar berjemaah di masjid kampus ini penuh.” ( hal. 219 )

·         Apartemen Raja dekat Stadion Wembley, London
“Malam itu kami menginap di apartemen raja di dekat Stadion Wambley, stadion kebanggan tim sepak bola nasional Inggris. Raja tinggal berdua dengan Fatia,Istrinya yang lulusan pondok khusus putrid di Mantingan.”
( hal. 402 )

b)           Latar Suasana

·         Sepi
“Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi” ( hal.3 ).


·         Emosi
“Sebelum mereka menyahut, aku telah membanting pintu dan menguncinya” ( hal.10 ).

·         Takut
“Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku”( hal.66).
·         Gugup
“Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.” (hal.126)

·         Bahagia
“Dengan penuh kemenangan kami keluar dari gerbang PM” ( hal.127)

·         Sedih
“Di ujung kelopak matanya aku menangkap kilau air yang siap luruh. Suaranya kini bergetar” ( hal.360)

c)            Latar Waktu

·         Musim Salju
“Dari balik kirai tipis di lantai empat ini,salju tampak turun mengumpal-ngumpal seperti kapas yang dituang dari langit.”
(hal 1)

·         Sore hari
“Matahari telah tergelincir di ufuk dan gerimis merebak ketika kami beriring-iringan menggotong lemari masing-masing melintasi lapangan besar menuju asrama kami.”

(hal 62)
·         Dini hari
“Dalam perjalananku dari Padang ke Jawa Timur, aku sempat sekilas melewati Jakarta jam tiga dini hari.” (hal.47).

·         Pagi hari
“Sejak dari pagi buta suasana PM sudah heboh.” (hal.214)

·         Malam hari
“Malam ini adalah salah satu dari malam-malam inspiratif yang digubah  oleh Ustad Salman.” (hal.108).
5.      SUDUT PANDANG

Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam novel Negeri 5 Menara, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal dengan “Aku” sebagai tokoh utama.

Hal ini dibuktikan oleh pengarang yang selalu menyebut tokoh utama dengan kata “Aku” saat di narasi, di mana seakan-akan pengarang adalah si tokoh utama

“Iseng aja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku” (hal.1).

6.      GAYA BAHASA

Gaya bahasa  dalam karya satra adalah cara pengarang menggunakan bahasa dalam karyanya. Pilihan kata adalah kata- kata yang sengaja di pilih oleh pengarang untuk karyanya. Dalam novel Negeri 5 menara menggunakan beberapa gaya bahasa yaitu :

a)       Simile (perumpamaan)
Simile adalah pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung.

·         “gerimis berganti menjadi hujan bagai dicurahkan dari ember raksasa” ( hal. 276)
b)       Majas hiperbola
Majas hiperbola adalah pengungkapan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

·         “Muka dan kupingku bersemu merah tapi jantungku melonjak-lonjak girang.” (hal.5)

c)        Majas Metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda yang lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.


·         “ salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit” (hal.1).



d)       Litotes
Litotes adalah ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.

·         “Majnun cinta,ini seperti pungguk merindukan bulan,”sambutku(hal 179)


7.      AMANAT

Dalam mengejar semua cita-cita beserta impian, tidak semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan tapi semuanya berjalan seiring bagaimana kita menyelesaikan rintangan yang datang menghadang dan untuk mendapatkan menggapainya juga, kita harus mengorbankan sesuatu. Jangan pernah menyerah dalam mencapai impian, jangan pernah meremehkan impian, walau setinggi apapun, dengan memegang teguh Man jadda wajada,   impian kita bisa di wujudkan.

C.    KESELARASAN

Novel yang bertemakan pendidikan ini sangatlah menggugah hati pembacanya dan dapat dibaca oleh semua kalangan. Gaya bahasa yang digunakan sangat menarik. Ringan deskriptif dan mengalir serta mampu menambah kosakata dan wawasan berbagai macam daerah. Lalu terdapat ungkapan-ungkapan seperti “Man Jadda Wajada” yang merupakan kalimat sakti dimana dapat menyemangati dalam meraih masa depan yang gemilang. Pembaca pun tidak akan bosan membaca novel ini. sebab novel ini menggunakan alur campuran yang membawa hayalan para pembacanya menuju tempat-tempat yang didatangi Alif Fikri sang tokoh. Novel ini juga mengajak pembacanya agar terinspirasi dengan perjuangan alif fikri yang belajar ilmu agama, bahasa inggris, bahasa arab, kesenian dan lainnya. Amanah yang terdapat di novel ini juga sesuai dengan tema pendidikan di atas. Lalu Latar waktu,suasana, dan tempatnya pun membuat cerita ini semakin selaras karena benar-benar sesuai dengan cita-cita yang di gapai oleh Afif Fikri.


D.    KESIMBANGAN
Di dalam novel Negeri 5 Menara ini terdapat tokoh utama Alif Fikri yang protagonis. penuh semangat, memiliki semangat yang berkorbar-korbar, memliki keyakinan yang kuat akan usahanya dan tidak mudah putus asa. Lalu disusul oleh beberapa tokoh protagonis yang lain sahibul menara yang merupakan sahabat Alif Fikri semasa tinggal di pondok. Yaitu, Raja, Said, Dulmajid, Baso, dan Atang. Disusul lagi Amak adalah ibu dari tokoh Alif Fikri, seorang guru MI yang berhati lurus, idealis dan memiliki kemauan tinggi untuk memajukan putranya. Idealismenya tidak pandang bulu dan bisa mengenai siapa saja termasuk putra sendiri. Pernah suatu kali ia melukiskan angka merah di raport Alif lantaran putranya itu tidak mau memainkan alat musik ketika praktik kesenian. Amak juga sempat dijauhi para guru saat ia dengan tegas menolak memberikan bantuan jawaban pada siswa-siswi yang tengah menjalani Ujian Nasional. Ayah Alif Sebagai orang sabar, pendiam dan amanat, Ustadz Salman tokoh wali kelas Alif semasa di PM, seorang lelaki muda bertubuh kurus dan bersuara lantang. Dari mulut beliaulah Alif mendengar petuah yang menginspirasi serta menguatkan tekad menuntaskan belajar di PM. Kyai Rais Pemimpin PM yang dihormati banyak kalangan, tak terkecuali Alif. Beliau memberi kalimat yang terpatri kuat di hati para santrinya, yakni “Man Jadda Wa Jadda dan Man Shabara Zafira”. Rata-rata pada novel ini dipenuhi degan tokoh protagonis namun disamping itu ada pula tokoh antagonis bernama Tyson adalah senior alif yang menjabat sebagai kepala keamanan pusat pondok madani  yang suka memberi hukuman di tempat. Semua kegiatan disana terdapat banyak peraturan namun semua itu membuat Alif menjadi orang yang lebih baik lagi. Jadi terdapat keseimbangan tokoh di dalam cerita Negeri 5 menara ini.

E.     PERLAWANAN

Perlawan tokoh Alif bermula ketika Amaknya menyuruh Alif untuk masuk ke pesantren dan tidak membolehkan dia untuk masuk ke SMA dan alif pun menolak permintaan Amaknya. Tapi hari demi hari akhirnya Alif bersedia juga untuk mengikuti perintah amaknya dengan keputusan setengah hati untuk melanjutkan ke pesantren yang berada di luar pulau Sumatra
“jadi amak minta dengan sangat waang tidak masuk SMA. Bukan karena uang tapi karena bibit unggul yang masuk Madrasah Aliyah” (hal. 8)
Lalu alif menjalani kehidupan di PM yang sangat sulit dan dibebani dengan beberapa peraturan. Namun ia dengaan bersikeras memutuskan benar-benar menuntut ilmu di PM. Sampai alif sudah memasuki kelas 6 di Pondok Madani yang merupakan kelas tertinggi di daerah kawasan PM. Kelas yang memiliki rasa hormat yang tinggi di antara kelas-kelas lain. Lali tibalah masa Alif dan para Shahibul menara mengikuti ujian akhir di Pondok Madani. Ujian pada tahun akhir merupakan ujian yang sangat berat dilakukan oleh para santri-santri PM yang harus berjuang demi kelulusan dan sedih ketika setelah ujian harus berpisah dengan para shahibul menara.“inilah ujian yang paling berat yang ditemui oleh anak-anak PM” (hal. 378)
setelah ujian akhir selesai dilaksanakan di PM. Dan para Shahibul menara berpisah tidak lama kemudian para shahibul menara bertemu kembali. dengan bertemunya Alif dengan Atang dan Raja di London.


F.     ANALISIS GAYA BAHASA _Novel NEGERI 5 MENARA

a.      Simile (perumpamaan)
Simile adalah pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung.

·         “gerimis berganti menjadi hujan bagai dicurahkan dari ember raksasa” ( hal. 276)

Berdasarkan simile di atas terdapat kata perbandingan bagai . sebenarkan penulis hanya ingin mengatakan kalau gerimis berganti menjadi hujan. Tetapi ditambahkan perbandingan yang memberi kesan hujan nya itu seperti dicurahkan dari ember raksasa. Jadi memiliki kesan yang tadinya gerimis tiba-tiba hujan. Majas perumpamaan ini mengajak pembacanya mengikuti daya hayal si penulis.

b.      Majas hiperbola
Majas hiperbola adalah pengungkapan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

·         “Muka dan kupingku bersemu merah tapi jantungku melonjak-lonjak girang.” (hal.5)

Dari keterangan di atas bahwa majas hiperbola adalah majas yang pengungkapan katanya berlebihan dan terkesan tidak masuk akal. “ jantungku melonjak-lonjak girang” yang kita ketahui jantung terdapat di dalam tubuh lalu melonjak-lonjak itu meloncat-loncat dan terdapat pula kata “girang” yang berarti sangat senang. Secara logika tidak mungkin organ tubuh kita melonjat-lonjat girang . faktanya kata melonjak-lonjak girang itu melebih-lebihkan kenyataan yang ada. Padahal penulis hanya ingin menggambarkan jantungnya yang berdegup kencang .

c.       Majas Metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda yang lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.

·         “ salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit” (hal.1).
Seperti yang kita ketahui majas metafora membandingkan benda yang hampir sama karena sifatnya. Dari warna salju yang putih mirip dengan kapas. Lalu turun dan menggumpal-gumpal mirip dengan kapas yang dituang dari langit. Penulis ingin kapas tersebut tidak di beri kata banyak  untuk menyerupai kata menggumpal. Karena kata banyak sudah tersirat dengan kata dituang. secara logika jika ada kata dituang pasti banyak.


d.      Litotes
Litotes adalah ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.

·         “Majnun cinta, ini seperti pungguk merindukan bulan,”sambutku(hal 179)

Majnun = gila

Penulis menuliskan kata yang seakan-akan kegilaan cintanya seperti pungguk merindukan bulan. “pungguk merindukan bulan “ sendiri adalah pribasa yang bermakna orang yang rendah (kedudukannya) tidak mungkin mendapatkan sesuatu yang indah dan jauh seperti bulan.  Dari peribahasa tersebut terdapat kata yang pesimis dan seakan tidak mungkin di dapatkan sehingga ia merendahkan dirinya. Fungsinya adalah menggambarkan bahwa “rasa cinta (fakta) yang dimilikinya itu tidak mungkin ia dapatkan nantinya”.


No comments:

Post a Comment